Keutamaan Bulan Ramadhan

oleh: Ust. Firanda Andirja MA.

PERTAMA

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

”Apabila Ramadhān tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”

(HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

◆ Pintu surga dibuka menunjukkan turunnya rahmat Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.
◆ Pintu neraka ditutup menunjukkan redanya kemarahan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

Jika memperhatikan hadits ini maka Allāh benar-benar mengkondisikan bulan Ramadhān agar kaum muslimin semangat beribadah, sampai-sampai rahmat Allāh turun, amarah Allāh diredakan dan syaithan-syaithan dibelenggu.

Ini merupakan kemudahan dari Allāh Subhānahu Wa Ta’āla agar kaum muslimin bisa berlomba-lomba didalam bulan Ramadhān karena ini merupakan “musim panen” bagi kaum muslimin.

Ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang “dibelenggunya syaithan”;

⑴ Ada yang mengatakan yang dibelenggu gembong syaithannya saja, buktinya masih banyak kemaksiatan yang masih terjadi, walaupun jumlahnya berkurang.

Ada tambahan lafazh:

مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ

“Para syaithan yang paling durhaka.”

⑵ Ada yang mengatakan seluruh syaithan dibelenggu, baik yang besar maupun yang kecil, tapi bukan berarti mereka tidak beraktifitas sama sekali, akan tetapi aktifitasnya terbatas. Oleh karena itu masih saja ada manusia yang bermaksiat.

⑶ Ada yang mengatakan semua syaithan dari golongan jin dibelenggu sampai tidak bisa beraktifitas sama sekali, adapun syaithan dari golongan manusia masih bisa beraktivitas karena mereka adalah murid-murid syaithan dari golongan jin yang sudah dididik selama 11 bulan sehingga bisa mengganggu yang lainnya.

Tapi yang jelas aktifitas kemaksiatan dalam bulan Ramadhān berkurang karena Allāh telah mengkondisikan sehingga memudahkan kaum muslimin.

Seperti kita tahu, kemaksiatan bukan terjadi hanya karena gangguan syaithan tapi karena hawa nafsu manusia yang telah terlatih untuk bermaksiat.

KEDUA

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allāh, maka Allāh akan jauhkan dirinya dari neraka sejauh 70 tahun (perjalanan).”

(HR. Bukhari 2840, Muslim 1153, Nasai 2244 dan yang lainnya).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُوْلُ الله صلي الله عليه وسلم كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allāh Ta’āla berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.” Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allāh daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim no. 1151)

Oleh karenanya, yang tadi kita sebutkan hanya sebagian dari pahala, adapun pahala yang haqiqi hanyalah Allāh yang tahu karena Allāh lah yang akan langsung membalasnya.

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: مرني بأمر آخذه عنك، فقال: (عليك بالصوم، فإنه لا مثل له) رواه النسائي.

“Dari Abū Umāmah radhiyallāhu ‘anhu, Aku menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lalu aku berkata: “Perintahkan kepadaku yang bisa aku ambil dari engkau, beliau berkata: “Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa tidak ada yang menyamainya.” (HR. Nasā’i )

KETIGA
Yang kita harapkan dari puasa adalah ampunan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. Kalau kita renungkan dosa-dosa yang kita lakukan tentunya sangatlah banyak karena tidak ada dari kita yang terlepas dari dosa, baik dari dosa lisan, pandangan dan anggota tubuh. Kesempatan kita bisa terampuni adalah dengan puasa.

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyū´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allāh, Allāh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzāb 35)

Sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhān karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abū Hurairah)

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu, dan Jum’at satu ke Jum’at lainnya, dan Ramadhān satu ke Ramadhān lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu selagi seseorang menjauhi dosa-dosa besar. (HR. Muslim dari Abū Hurairah)

Namun tidak semua hamba mampu meraih ampunan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, makanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata “man shaama Ramadhāna īmanan wahtisāban”, ada syaratnya yaitu keimanan, yakin bahwa ini perintah dari Allāh dan yakin bahwa Allāh akan memberikan pahala serta benar-benar berharap kepada Allāh.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat mencela orang yang mendapati bulan Ramadhān tapi tidak diampuni oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwa:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ؟ قَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ .

Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam naik ke atas mimbar, lalu beliau bersabda: “Āmīn, āmīn, āmīn.” Lalu ada yang bertanya: “wahai Rasūlullāh, sesungguhnya ketika engkau naik ke atas mimbar engkau mengucapkan: “Āmīn, āmīn, āmīn (apa sebabnya)?”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Jibrīl telah datang kepadaku, lalu dia berkata: “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhān dan tidak diampuni dosanya maka akhirnya ia masuk ke dalam neraka dan dijauhkan oleh Allāh (dari surga), katakanlah “Āmīn” (wahai Muhammad)”, maka akupun mengatakan “Āmīn”.

(HR. Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh Al-Albāni di dalam kitab Shahih Al Jāmi’, no. 75)

Bulan Ramadhān adalah bulan yang sudah dikondisikan Allāh dimana maghfirah dan rahmat Allāh turun, namun kalau sampai tidak diberi ampunan oleh Allāh maka sangat keterlaluan sehingga orang seperti ini berhak dido’akan diberikan kecelakaan/keburukan oleh malaikat Jibrīl dan di”āmīn”kan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Terlebih lagi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam suatu hadits:

Hadits Jabir bin ‘Abdillāh radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إنَّ للهِ في كلِّ يومٍ وليلةٍ عُتَقاءَ مِنَ النَّارِ في شهرِ رمضانَ وإنَّ لكلِّ مسلمٍ دَعوةً يدعو بها فيُسْتجابُ له

“Sesungguhnya di setiap hari dan malam bulan Ramadhān dari Allāh ada pembebasan dari api neraka. Dan bagi setiap Muslim ada do’a yang jika ia berdoa dengannya maka akan diijabah.”

(HR. Ahmad 2/254, Al Bazzar 3142, Al Haitsami berkata: “semua perawinya tsiqah”)

Semoga Allāh menjadikan kita orang-orang yang tercatat tersebut, entah malam keberapa Allāh mencatat.

Hadits ini juga menunjukkan kelemahan hadits yang tersebar di masyarakat bahwa Ramadhān terbagi menjadi 3;sepertiga awalnya terdapat rahmat, tengahnya terdapat ampunan dan akhirnya terdapat pembebasan dari api neraka.

Dari malam pertama sampai terakhir semua adalah ampunan dari Allāh dan pembebasan dari api neraka Jahannam, makanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

إنَّ للهِ في كلِّ يومٍ وليلةٍ عُتَقاءَ مِنَ النَّار

“Sesungguhnya di setiap hari dan malam bulan Ramadhān dari Allāh ada pembebasan dari api neraka.”

(HR. Ahmad 2/254, Al Bazzar 3142, Al Haitsami berkata: “semua perawinya tsiqah”).

Disetiap malam bulan Ramadhān kita berharap menjadi orang-orang yang diampuni oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla dan dibebaskan dari adzab neraka Jahannam.

Yang perlu saya ingatkan, agar kita bisa menyempurnakan amalan ibadah puasa kita, yang berpuasa bukan hanya dari lapar dan haus tetapi kita juga berusaha menjaga anggota tubuh kita dari perbuatan kemaksiatan.

Terlebih lagi ulama Ibnu Hazm berpendapat bahwa orang yang berpuasa lalu melakukan dosa maka puasanya batal, tidak sah, walaupun ini pendapat yang kurang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur ulama bahwasanya:

“Siapa yang berpuasa lalu melakukan dosa-dosa maka akan mengurangi pahala puasanya atau menggugurkan pahala puasanya, adapun puasanya tetap sah dan tidak perlu diqadhā.”

Jangan sampai kita termasuk dari orang-orang yang kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Artinya: “Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Berapa banyak seorang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya melainkan lapar dan berapa banyak seorang yang bangun beribadah pada malam hari tidak ada bagiannya dari bangun malamnya kecuali rasa capai.”

(HR.Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, al-Baihaqi dengan sanad shahih)

Orang yang mereka berpuasa dan menahan lapar dan syahwat mereka, akan tetapi mereka terjerumus dalam praktek-praktek yang salah dalam dosa-dosa sehingga mereka tidak mendapatkan dari ibadah puasa mereka kecuali rasa lapar, rasa dahaga dan rasa letih tatkala shalat tarāwīh.

Oleh karena itu saya ingatkan kepada para ibu, diantara bentuk berbakti kepada suami saat Ramadhān adalah menyiapkan santapan untuk sahur dan berbuka, akan tetapi jangan sampai isrāf (berlebih-lebihan) sehingga waktu habis untuk menyiapkan makanan dan tidak sempat baca Al-Qurān dan berdzikir, maka hati-hatilah, ini kebiasaan sebagian ibu. Kalau sesekali tidak mengapa tetapi kalau setiap hari maka sayang waktunya. Karena kita tahu bahwa isrāf (berlebih-lebihan) diharamkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟

“Dan makan dan minumlah tapi janganlah kalian berlebih-lebihan.” (Al-A’rāf 31)

Banyak ulama menashihatkan kalau memiliki kulkas yang besar maka sebelum bulan Ramadhān sebaiknya beli makanan untuk 1 bulan.

Banyak sekali keutamaan puasa, yang disebutkan diatas hanya sebagian.

Sebesar apapun hakikat pahala puasa maka tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.

Ustadz Firanda Andirja, MA
Sumber: https://youtu.be/cmjAYtvlP7I

(imr)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *