Kajian Perdana Ba’da Ramadhan 1436H

Jpeg

Ustad Nuzul Dzikry dalam tausiah perdana MJF

BEKASI – Hari Minggu 26 Juli 2015, bertepatan dengan 10 Syawal 1436H, kembali DKM Masjid Jannatul Firdaus (MJF) memulai kegiatan rutinnya berupa majelis taklim. Tak tanggung-tanggung, majelis ini langsung sekaligus mengadakan kajian dua sesi dalam satu hari, yaitu pukul 10.00 WIB kajian oleh ustadz Dr. Nuzul Dzikry Lc. M.A hafizahullah, dan sesi ke-2 pada ba’da asyar dengan pemateri ustadz Dr. Nur Ikhsan hafizahullah dari STDI Jember.

Pada Sesi-1 Ustadz Nuzul yang seyogyanya membawakan materi rutin Hadits Arba’in An Nawawiah, karena masih dalam suasana lebaran memutuskan untuk membawakan materi dengan thema Hikmah Idul Fitri. Ada beberapa hikmah dari kegiatan Idul Fitri yang baru saja dilakukaan antara lain adalah:

1. Islam tidak akan berjalan baik tanpa meneladani sosok Nabi Muhammad  صل الله عليه وسلم  dan tidak cukup hanya dengan niat baik saja. Maksudnya amal ibadah yang dilakukan harus lah berdasarkan niat yang ikhlas namun juga i’tiba’ yaitu melaksanakan ritual ibadah tersebut sesuat ajaran atau tuntunan rasul.

2. Idul Fitri memberikan pesan bahwa kemenangan dan kesuksesan hanya bisa diraih setelah perjuangan. Perjuangan dalam hal ini yaitu setelah memaksimalkan kegiatan ibadah dalam bulan Ramadhan yang meliputi sholat tarawih, sholat tahajud, tadarus, tadabbur Al Quran, memperbanyak sholat-sholat sunnah dan membaca ilmu agama lainnya.Idul Fitri event akbar umat Islam, akan terasa berbeda kegembiraannya pada hari itu, orang yang ibadah nya bisas-biasa saja dengan orang yang beribadah all out, untuk mendapatkan berkah Allah di bulan Ramadhan itu. Terutama bagaiamana semakin meningkatnya ibadah ketika malam-malam di 10 hari terkahir Ramadhan, yang melakukan i’tikaf di masjid mengarapkan ridha Allah untuk menanti malam Lailatul Qadar yang dijanjikan Allah dalam Al Quran surat 97:

إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ (١) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ (٢) لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ۬ (٣) تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيہَا بِإِذۡنِ رَبِّہِم مِّن كُلِّ أَمۡرٍ۬ (٤) سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ (٥

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam kemuliaan [1]. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4) Malam itu [penuh] kesejahteraan sampai terbit fajar. (5)

3. Idul Fitri mengajarkan kepada manusia sebagai agama yang humanis. Disaat idul fitri diminta utnuk bergembira dan mengungkapkan kegembiraan. Sehingga sampai ada hadits yang menuliskan bahwa berpuasa syawal 6 hari dilakukan pada H+1 hukum pemilihan waktu nya tersebut makruh (bukan puasa syawalnya), dikarenakan masih dalam suasana lebaran dan menikmati kegembiraan dengan sanak keluarga, dengan makan ddan minum. Sedangkan bagi wanita dengan kendala waktu  menstruasinya tidak memungkinkan untuk berpuasa setelah H+10, maka tidak mengapa mulai berpuasa pada H+1 dengan terlebih dahulu mengqoda puasanya, lalu berpuasa syawal.

Demikian sekelumit inti ceramah dari sesi-1.

Jpeg

Walau perdana, jamaah tetap semangat hadir

Pada sesi-2, ustadz Dr. Nur Ikhsan menyampaikan materi dengan thema Kiat Menjada Istiqomah, tentunya hal ini terkait dengan bagaimana menjaga kita selalu istiqomah dalam beribadah setelah bulan Ramadhan dengan beribadah seperti apa yang dilakukan dalam bulan suci itu. Sebagai contoh, mari bertanya pada diri kita, berapa kali kita membca Al Quran dalam sehari dibulan Ramadhan, lalu apakah diluar Ramadhan kita membaca Al Quran dengan frekuensi yang sama seperti pada bulan Ramadhan?

Dalam menjaga amal ibadah kita untuk selalu istiqomah, banyak hal yang harus diperhatikan antara lain:

1. Selalu berdoa kepada Allah agar selalu di beri istiqomah dalam beribadah.

2. Selalu berada dalam akidah yang benar sesuai sunnahnya, karena jika melenceng dari sunnahnya akan sulit kita untuk istiqomah

3. Agar selalu menjauhkan diri dari subhat-subhat, menjaga syahwat yang menuju maksiat.

4. Mencari sahabat yang baik akidah dan akhlaknya, karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa iman mu adalah seperti bagaimana temanmu. Jika bersahabat dengan tukang maksiat, maka lambat laut kita akan bisa mengikuti teman untuk berbuat maksiat. Sebagaimana jika kita bersahabat dengan tukang minyak wangi, maka wangi tersebut bisa membuat kita wangi, sebaliknya jika bersahabat dengan tukang pandai besi, maka aroma seorang pandai besi yang berkeringat dapat membuat aroma kita seperti itu juga.

Demikian yang dapat di sarikan dari kedua kegiatan diatas, acara sesi-2 ditutup dengan sholat maghrib berjamaah yang di imami al ustadz Nur Ikhsan. Dari pengurus ada wacana untuk memasukkan ustadz Nur Ikhsan ini dalam kajian rutin bulanan انثاءالله   (imr)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *